Kuliah Lewat Internet Lebih Tepat untuk Program Pascasarjana

Wakil Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) menilai pengembangan sistem pendidikan yang berbasis internet dan melalui satelit lebih tepat diperuntukkan bagi program pascasarjana dan penelitian, ketimbang dikenakan di tingkat strata satu (S1). Pandangan itu disampaikan Wakil Rektor Senior Bidang Akademik ITB, Adang Surahman, kepada Antara di Tokyo, Kamis (26/6), setelah mengikuti penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara UNESCO dan Universitas Keio dalam pengembangan program School On Internet Asia.

Keio merupakan perguruan tinggi yang membidani proyek School on Internet yaitu upaya untuk membangun pendidikan global melalui internet dan satelit, guna menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas serta institusi pendidikan yang berbasis penelitian. Peserta pendidikan di tingkat pascasarjana itu umumnya sudah memiliki konsep dan pola berpikir yang cukup terstruktur, sehingga ilmu atau materi yang diperoleh lewat internet atau model perkuliahan bergaya teleconference hanya menjadi pembanding atau pelengkap saja, kata Adang.

Menurut dia, pola perkuliahan di tingkat sarjana strata satu justru lebih membutuhkan pola interaktif yang intens, yaitu dosen memberikan pengenalan akan konsep-konsep dasar secara langsung kepada mahasiswanya. Lebih jauh ia menyampaikan bahwa dalam proses belajar mengajar di tingkat pendidikan tinggi hendakanya penguasaan bahasa Inggris mutlak harus lebih baik, guna memudahkan dalam menyerap atau memahami konsep-konsep yang diperkenalkan melalui text book` atau hasil riset lainnya.

Sebetulnya pemakaian bahasa Inggris itu membantu orang memiliki cara berpikir yang terstruktur atau terencana. Ini yang penting. Kalau sekedar bisa memahami text book, itu merupakan keuntungan selanjutnya, ujarnya. Perlu dibenahi Menyinggung soal sistem pendidikan nasional, Adang Surahman mengatakan perlunya pembenahan di tingkat sekolah dasar dan menengah, mengingat dampak yang dihasilkannya bagi pendidikan di tingkat universitas. Banyak yang salah kaprah dalam sistem pendidikan kita. Jadi yang menderita kerugian juga perguruan tinggi. Padahal siswa-siswa kita tergolong cerdas, ujarnya.

Ia lantas mencontohkan di lingkungan ITB sendiri. Betapa saat menjadi mahasiswa tingkat awal kerap mengalami masalah. Menurut dia, pendidikan di tingkat sekolah dasar dan menengah terlalu bersifat indoktrinatif, seperti menekankan hafalan, padahal yang perlu dikembangkan adalah kemampuan nalar dari para siswanya. Bila membandingkan jam belajar dengan negara-negara maju, maka jam belajar di Indonesia tergolong paling banyak. Di Indonesia jam belajar setahun tercatat sebanyak 1.300 jam, sedangkan di Amerika Serikat dan Eropa tercatat sebanyak 1.000 jam belajar selama setahun. antara/is Sumber: Republika Online http://www.republika.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: