Membangun Keluarga Shaleh

Penulis : Aam Amiruddin

Mempunyai keluarga yang shaleh merupakan cita-cita semua orang. Untuk mewujudkannya butuh kesungguhan, kesabaran, dan keuletan dari suami dan istri. Berikut sejumlah keterangan dari Al-Qur’an dan hadits tentang bagaimana dasar-dasar keluarga yang shaleh itu.

1. Selalu Bersyukur Saat Mendapatkan Nikmat
Kalau kita mendapat karunia dari Allah SWT berupa harta, ilmu, anak, dan lain-lain, bersyukurlah kepadaNya atas segala nikmat yang telah diberikan tersebut supaya yang ada dalam genggaman kita itu menjadi barakah.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur (atas segala nikmat yang diberikan), pasti Allah akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14] : 7).

2. Senantiasa Bersabar Saat Ditimpa Kesulitan
Semua orang pasti mengharapkan bahwa jalan kehidupannya selalu lancar dan bahagia, namun kenyataannya tidak demikian. Sangat mungkin dalam kehidupan berkeluarga kita menghadapi sejumlah kesulitan dan ujian; berupa kekurangan harta, ditimpa penyakit, dan lain-lain. Nah, sabar merupakan fondasi yang harus kita bangun agar keluarga kita tetap bahagia walaupun sedang ditimpa musibah.
“Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu, sesungguhnya hal yang demikian itu termasuk, hal-hal yang diwajibkan Allah.” (QS. Lukman [31] : 17).

3. Bertawakal Saat Memiliki Rencana
Allah sangat suka kepada orang-orang yang melakukan sesuatu secara terencana. Nabi Muhammad SAW kalau mau melakukan sesuatu yang penting selalu bermusyawarah dengan para sahabatnya. Musyawarah merupakan suatu proses perencanaan. Alangkah indahnya bila suami istri selalu bermusyawarah dalam merencanakan hal-hal yang dianggap penting dalam kehidupan berumah tangga, misalnya masalah pendidikan anak atau tempat tinggal. Kalau kita punya suatu rencana, jangan lupa hasilnya kita pasrahkan kepada Allah SWT, itulah yang disebut tawakal
“Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad (menghadapi suatu rencana), maka bertawakallah kepada Allah SWT. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran [3] : 159).

4. Bermusyawarah
Suami adalah leader atau pemimpin dalam rumah tangga. Seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan-keputusan strategis. Alangkah mulia kalau suami sebagai pemimpin selalu mengajak bermusyawarah kepada istri dan anak-anaknya dalam mengambil keputusan-keputusan penting yang menyangkut urusan keluarga. Hindarkan diri dari sikap otoriter, insya Allah hasil musyawarah itu akan baik.
“… Dan segala persoalan, di putuskan dengan bermusyawarah di antara mereka…” (QS. Asy-Syuura [42] : 38).

5. Tolong Menolong dalam Kebaikan
Menurut Aisyah RA, Rasulullah SAW sebagai suami selalu menolong pekerjaan istrinya. Beliau tidak segan untuk mengerjakan pekerjaan yang dilakukan wanita, seperti mencuci piring/baju, menggendong anak, dan lain-lain. Nah, kalau kita ingin membangun keluarga yang shaleh, suami harus berusaha meringankan beban istri, begitu juga sebaliknya. Jadikan tolong menolong sebagai hiasan berumah tangga.
“Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran…” (QS. Al-Maidah [4] : 2).

6. Senantiasa Memenuhi Janji
Memenuhi janji merupakan bukti kemuliaan seseorang. Sedalam apapun ilmu kita, setinggi apapun kedudukan kita, tapi kalau sering menyalahi janji tentu orang tidak akan lagi percaya kepada kita. Bagaimana kita akan menjadi suami yang dihargai istri dan anak-anak kalau kita sering menyalahi janji kepada mereka?
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji.” (QS. Al-Maidah [4] : 1).

7. Segera Bertaubat Bila Terlanjur Melakukan Kesalahan
Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, tak jarang suami istri terjerumus dalam kesalahan. Itu tidak dapat dipungkiri. Apabila suami/istri melakukan kesalahan, hendaklah segera bertaubat dari kesalahan itu.
“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali-Imran [3] : 135).

8. Saling Menasehati
Untuk membentuk keluarga yang shaleh, tentunya dibutuhkan sikap lapang dada dari masing-masing pasangan untuk dapat menerima nasihat ataupun memberikan nasihat kepada pasangannya.
“Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati dalam hal kesabaran.” (QS. Al-Ashr [103] : 1-3).

9. Saling Memberi Maaf dan Tidak Segan untuk Minta Maaf Kalau Melakukan Kekeliruan
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali-Imran [3] : 134).

10. Berprasangka Baik
Suami istri hendaknya selalu berprasangka baik terhadap pasangannya. Sesungguhnya prasangka baik akan menentramkan hati, sehingga konflik dalam keluarga dapat diminimalisir.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurat [49] : 12).

11. Mempererat Silaturahmi dengan Keluarga Istri dan Suami
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat [49] : 13).

12. Melakukan Ibadah Secara Berjama’ah
Dengan mengerjakan ibadah secara berjama’ah, ikatan batin antara suami-istri akan lebih erat. Disamping itu pahala yang dijanjikan Allah pun lebih besar.
“Shalat berjama’ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendiri-sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

13. Mencitai Keluarga Istri atau Suami Sebagaimana Mencintai Keluarga Sendiri
Berlaku adil atau tidak berat sebelah adalah hal yang mesti dijalankan oleh masing-masing pasangan agar tercipta suasana saling menghormati Dalam rumah tangga.
“Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu, sehingga mencintai saudaranya (keluarga, sahabat, dan sebagainya) seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR. Muslim).

14. Memberi Kesempatan kepada Suami atau Istri untuk Menambah Ilmu
Kewajiban menuntut ilmu melekat kepada siapapun, termasuk kepada suami/istri, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW, “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Muslim).

Apabila keempat belas hal di atas dikerjakan secara konsekuen oleh masing-masing pasangan, insya Allah akan tercipta keluarga yang menjadi penyejuk hati.
Wallahu a’lam. *Kota Santri.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: