‘Ritus Seks’ di TransJakarta

15 Juli, 2010
Adhim tertimpa ‘musibah’. Pegang pantat mahasiswi membawanya ke penjara. Itu dilakukan di bus TransJakarta. Dia dikenai pasal tindakan tidak menyenangkan. Ancaman hukuman menunggunya. Dan akibat ‘tekanan’ dari banyak pihak, Adhim pun ditahan.

Negeri ini memang seperti hutan belantara bagi masyarakat bawah. Transportasi yang semrawut membuat mata berkunang-kunang sebelum sampai tujuan. Pengap dan sesak berebut angkutan, penumpang mirip ikan pindang ditegakkan. Berdiri baris berjajar, dan kalau ada yang turun, maka gesekan dan bertindihan tak terhindarkan.

Naik angkutan umum di Jakarta juga seperti sedang menjalani ritus suci. Nafsu amarah dikendalikan agar bus tidak berubah menjadi ring tinju. Dan nafsu seks wajib ‘dihilangkan’. Terutama jika berdempetan dengan lawan jenis. Bagaimana pun cantiknya ‘dempetan’ kita, hawa nafsu itu jangan diekspresikan. Jika sampai nafsu birahi menggelegak dan tangan atau pantat bereaksi, jangan menyesal jika terkena pinalti. Prittt ! Dilaporkan polisi.

Itu dialami Adhim. Pengangguran itu bergelantungan di bus TransJakarta. Dia berhimpitan dengan TS, mahasiswi sebuah perguruan tinggi. Gadis cantik bertubuh molek itu membuatnya bernafsu. Refleks tangannya bergerak. Dia gerayangi pantat gadis itu. Sang gadis berteriak, dan yang tak perlu terjadi terjadilah. Adhim dipidanakan.

Moda transportasi Jakarta memang memaksa orang tebal iman. Kita dipaksa untuk menjadi orang yang sabar dan bertawakal. Jangan marah diteriaki, dimaki, digencet dan didorong-dorong. Juga jangan ereksi saat dipaksa berbaris dempet, ketat, laki-perempuan yang kadang bagian sensitif bersenggolan. Kalau sampai tidak tebal iman, maka nasib yang dialami Adhim bukan mustahil menimpa yang lain.

Seorang teman berseloroh, beginilah pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) memberi pendidikan moral bagi rakyatnya. Menguji keimanan melalui desak-desakan laki-perempuan. Meredam amarah dan libido. Dan tak lama lagi akan diinstruksikan agar berzikir selama naik bus. Istighfar supaya selamat dari tindak kriminal.

Sebab jika tidak untuk itu, maka harusnya transportasi ini ditertibkan. Bus mengangkut penumpang dibatasi hanya pada jumlah bangku yang tersedia. Tidak kurang dan tidak lebih. Apalagi bus TransJakarta sejak beroperasi memang diarahkan ke sana. Sebagai angkutan eksklusif dengan fasilitas dan suasana yang mendorong kelas menengah tertarik meninggalkan mobilnya di rumah.

Kini eksklusivitas itu hilang sudah. Adhim ‘menunjukkan’ itu, dan Adhim-Adhim yang lain masih banyak menunggu terjerat. Ini merupakan kasus ketiga yang sempat ramai. Diributkan di tempat, dilaporkan ke polisi, tapi tidak lanjut ditangani. Dan Adhim merupakan orang pertama tersandung masalah pelecehan seksual di bus TransJakarta dan dipenjara.

Jika di TransJakarta baru kasus ketiga pelecehan seksual ini, tidak demikian dengan peristiwa serupa di bus umum dan Kopaja. Sesaknya penumpang menjadikan ‘pelecehan seksual’ menjadi peristiwa lumrah. Beberapa tahun lewat, kasus yang lebih ‘ngeri’ pernah terjadi. Mahasiswi cantik dijadikan ‘alat’ pemuas nafsu. Pantatnya (maaf) digesek-gesek pemuda, dan ulah itu ketahuan saat ejakulasi.

Sang pemuda memang diamankan. Dia mengaku terus terang melakukan itu. Dia bilang terangsang melihat kecantikan serta bentuk tubuh gadis yang berada di depannya. Setelah dihajar ramai-ramai dan babak-belur terkena hukum rimba, pemuda itu dilepas seraya minta maaf dan janji tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Di bus kota jam-jam sekolah pelecehan seksual menjadi pemandangan umum. Itu dilakukan dengan sengaja atau ‘terpaksa’. Transporatsi umum yang tidak memadai membuatnya harus ‘dilecehkan’ atau ‘melecehkan’. Malah kalau ada gadis yang ‘terlalu’ sensitif bukan mendapat pembelaan tetapi justru sebaliknya, dicemooh.

Adhim memang tersangka. Dia tergelitik memegang pantat gadis yang ada di depannya. Tapi Adhim juga sekaligus korban. Korban dari moda transporatsi kita yang amburadul dan tidak manusiawi. Kalau Adhim tergolong penjahat kelamin, layak baginya dipidana seberat-beratnya. Tapi jika Adhim melakukan itu akibat jeleknya kondisi pelayanan bus TransJakarta yang merangsangnya melakukan pelecehan seksual, maka pemerintah DKI-lah yang layak untuk dipersalahkan.

Pemerintah DKI merangsang warganya yang baik untuk berbuat jahat. Melakukan ritus seks di bus TransJakarta! *(Djoko Suud) Copy Paste dari detiknews.com


Memberi, Hakikatnya Mendapatkan

14 Januari, 2010

Oleh: Sholih Hasyim

Orang beriman sadar bahwa apa yang dimilikinya hanya hak guna (pinjaman), bukan hak milik. Karena yang memilikinya adalah Allah Swt.

Kekayaan seorang mukmin yang paling mahal dalam kehidupan ini adalah manisnya iman kepada Allah Swt. Jika kita memilikinya, sekalipun kita miskin harta, pengaruh, jabatan, tinggal di gubuk reot, mendekam di balik jeruji, hakikatnya kita memiliki segala-galanya dalam kehidupan ini. Sebagaimana pengalaman Nabi Yusuf As.

Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf (12) :

Sebaliknya, meskipun dunia dan seisinya berada di dalam genggaman kita, tetapi kita faqrul iman (miskin iman), maka sejatinya kita tidak memiliki apa-apa. Karena, kita tidak bisa memaknai dan menikmati kehidupan ini. Dunia yang luas tak bertepi ini terasa sempit. Dunia yang terang benderang ini terasa gelap gulita. Orang beriman sekalipun miskin harta, tetapi memiliki kekayaan jiwa (ghinan nafsi).

Oleh karena itu kita harus berjuang tanpa mengenal lelah, dengan tenaga, fikiran, potensi yang kita miliki untuk mencapai manisnya iman (halawatul iman). Betapapun tinggi gunung kita daki, lautan yang tidak bertepi kita arungi, semua untuk memperoleh kenikmatan spiritual (lazzatur ruhi), yang diserap dari iman itu. Karena, di tengah-tengah perjuangan itu Allah Swt akan menggantinya dengan dua surga. Surga di dunia dengan kehidupan yang bahagia (hayatun thayyibah) dan surga di akhirat, selamat dari siksa neraka.

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar (QS. Yunus (10) : 62-64).

Namun, bagaimanakah iman yang sebenarnya, aqidah salimah (steril dari kontaminasi kemusyrikian) merujuk referensi Islam itu?

Iman yang benar adalah keyakinan yang terhunjam di kedalaman hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan seluruh anggota tubuh. Keyakinan bulat, tiada keraguan sedikit pun (al-yaqinu kulluhu). Dan mampu mempengaruhi orientasi kehidupan (ittijahul hayah). Iman tidak sekedar amal perbuatan, bukan pula sebatas pengetahuan tentang rukun Iman.

Iman bukan pula sekedar ucapan lisan seseorang yang mengaku bahwa dirinya orang beriman. Sebab, orang-orang munafik pun dengan lisannya menyatakan hal yang serupa, tetapi hatinya mengingkari statemennya sendiri. (QS. Al-Baqarah (2) : 8-9).

Iman pula tidak sebatas amal perbuatan an sich yang secara lahiriah merupakan ciri khusus perbuatan orang beriman. Sebab, orang-orang munafik pun tidak sedikit yang secara permukaan mengerjakan ibadah dan berbuat baik (fi’lul khoir), sedangkan hatinya kontradiksi dengan penampakan lahiriahnya. Apa yang dikerjakan tidak didasari kemurnian niat untuk mencari ridha Allah Swt (QS. An-Nisa (4) : 142). Iman juga bukan sekedar pengetahuan akan makna dan hakikat iman, tidak sedikit orang yang mendalami hakikat dan makna iman, tetapi mereka tetap saja ingkar (QS. An-Naml (27) : 14), (QS. Al-Baqarah (2) : 146).

Dengan demikian, iman membutuhkan penerimaan oleh akal hingga mencapai keyakinan yang benar-benar kuat, tidak lentur dengan perasaan bimbang. (QS. Al-Hujurat (49) : 15). Iman di samping menuntut adanya pengetahuan, pemahaman dan keyakinan yang kokoh, dia juga mensyaratkan adanya kepatuhan hati, sami’na wa ‘atha’na (kami dengar dan kami patuh), kesediaan dan kerelaan menjalankan perintah (instruksi) Allah Swt dan Rasul-Nya, serta ulil amri yang dipilih-Nya (QS. An-Nisa (4) : 65), (QS. An-Nur (24) : 51), (QS. Al-Ahzab (33) : 36).

Di samping pengetahuan dan penerimaan, iman sepatutnya membangkitkan semangat untuk beramal, berjuang dengan harta dan jiwa, sesuai dengan yang dituntut oleh iman itu sendiri dan kewajiban orang beriman (QS. Al-Anfal (8) : 2-4).

Dalam menyajikan ilustrasi tentang iman, Al-Quran selalu mengambil bentuk sebagai perilaku terpuji dan amal yang mendatangkan manfaat, yang merupakan garis pembeda antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir dan munafik (QS. Al-Mukminun (23) : 1-5).

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya (QS. Al-Mukminun (23) : 1-5).

Iman dan Kekayaan

Orang beriman sadar bahwa apa yang dimilikinya hanya hak guna (pinjaman), bukan hak milik. Karena yang memilikinya adalah Allah Swt. Maka, dilandasi oleh keimanan ia ikhlas memberikan sesuatu, sekalipun pada saat akan mengeluarkan ada perasaan berat, tetapi keimanannnya itu mengantarkannya untuk rela memberi. Ia yakin dengan memberi, hakikatnya akan mendapatkan balasan yang lebih baik. Balasan itu tidak akan salah alamat, pasti akan mengenai dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Justru infak yang paling tinggi nilainya adalah ketika akan dikeluarkan banyak sekali pertimbangannya, dan berat hati untuk memulainya.

Bahkan bersedia memberikan yang lebih banyak, melebihi dari yang diwajibkan, karena yakin bahwa apa yang diberikannya untuk menunaikan kewajiban kepada Allah Swt. Itulah yang kekal abadi. Sedangkan apa yang di genggaman tangannya akan hilang, lenyap tanpa bekas. Apa yang kita berikan untuk kebaikan, itulah milik kita sebenarnya.

Sebagai contoh kita nukilkan di sini pengalaman ruhani seorang sahabat Rasulullah Saw bernama Ubay bin Ka’ab:

“Aku pernah diutus oleh Rasulullah Saw mengumpulkan zakat. Dalam menjalankan tugas ini, aku berjumpa dengan seorang laki-laki yang akan dipungut zakat hartanya. Setelah dikumpulkan semua ternaknya, maka menurut pendapatku dia hanya berkewajiban membayar bintu makhadh (unta yang sangat mudah). Aku katakan kepadanya: Berikanlah seekor bintu makhadh, karena hanya itu zakat yang diwajibkan kepadamu. Dia menjawab: Unta seusia itu belum mempunyai susu dan belum dapat dikendarai. Inilah seekor onta muda, besar dan gemuk. Ambillah ia !. Aku menjawab: Aku tidak akan mengambil apa yang tidak diperintahkan kepadaku. Kini Rasulullah Saw tidak jauh dari kita. Engkau bisa menemui beliau, mengutarakan apa yang telah kau utarakan kepadaku ini. Kalau Rasulullah Saw menyetujui, tentu aku pun menerimanya. Sebaliknya, jika beliau tidak sepakat, maka aku pun menolaknya. Lelaki itu berkata: Boleh. Lalu kami pergi bersama dengan membawa onta tersebut. Kami menjumpai Rasulullah Saw, lalu laki-laki itu berkata: Ya Rasulullah! Utusanmu telah datang kepadaku. Demi Allah, sebelum ini, baik Rasulullah Saw sendiri maupun utusannya belum pernah mengambil zakat dari hartaku. Lalu aku kumpulkan ternakku, hingga utusanmu berkata: Kewajibanmu hanya membayar bintu makhadh. Unta seperti itu belum mempunyai susu dan belum bisa dikendarai. Aku kemukakan kepadanya supaya dia mengambil seekor onta yang muda dan besar, tetapi dia tidak mau menerimanya. Dan inilah onta itu, kubawa kepadamu, ya Rasulullah, ambillah ia. Rasulullah Saw menjawab: Kewajibanmu hanya itu (bintu makhadh). Tetapi kalau engkau berbuat kebaikan dengan suka rela, niscaya Allah Swt akan memberi pahala kepadamu karenanya, dan kami pun menerimanya. Lelaki itu berkata: Inilah onta itu, ya Rasulullah! Telah kubawa kepadamu. Karena itu terimalah ia. Lalu Rasulullah Saw memerintahkan kepada utusannya itu untuk menerimanya dan mendoakan keberkahan hartanya.” [HR. Abu Daud].

Al-Hamdulilllah, setelah bersedekah dan didoakan oleh manusia pilihan (al-Musthofa) itu, hartanya menjadi barakah, bertambah kebaikannya, semakin berlimpah, baik secara kuantitas dan kualitas. Keluarganya semakin harmonis, anak dan istrinya semakin patuh. Dia terhindarkan dari berbagai penyakit yang selama ini diidapnya. Karena sedekah itu bisa menolak bala’ (Ash-Shadaqatu tadfa’ul bala’). Dia sering mendapatkan jalan keluar dari berbagai kesulitan yang ditemuinya. Bahkan, orang-orang terdekatnya semakin cinta, simpati, dan selalu membelanya. Hashshinuu amwalaku biz zakat (bentengilah harta kekayaanmu dengan zakat), meminjam istilah Umar bin Khathab.

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah (QS. Al-Lail (92) : 5-7).

Apabila kita dalam kondisi papa, keluarkan harta yang paling kita senangi, niscaya Allah Swt akan menghilangkan kemiskinan kita itu. Apabila kita memiliki kecukupan, keluarkanlah infaq, niscaya Allah Swt akan menambah kekayaan kita. Apabila kita kaya, gemarlah berinfaq dengan tulus, supaya semakin kaya. Dan apabila kita sedang sakit, berinfaklah, Insya Allah sakit itu akan segera disembuhkan oleh-Nya. Sedekah adalah solusi yang jitu untuk mengatasi berbagai kerumitan kehidupan kita. Semoga kita bisa mengambil ‘ibrah (pelajaran), ‘ubur (jembatan menuju puncak sukses) dari kisah tadi.

Akrabilah Allah Swt di saat lapang, maka Ia akan mendatangimu ketika sempit (Hadits Qudsi). Wallahu a’lam bishshawab. *hidayatullah.com


Menag Ikut Dukung Haramnya Infotainment Gosip

28 Desember, 2009
Liputan yang bernilai haram adalah ghibah (gosip), termasuk menceritakan masalah rumah tangga orang lain. Reaksi penolakan terhadap tayangan infotainment di tekevisi terus bergulir. Kali ini datang dari Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali. Meskipun tidak secara eksplisit (terang-terangan) menolak tayangan tersebut, tapi dirinya mendukung langkah Pengurus Besar Nahdlatu Ulama (PBNU).

Sebelumnya, PB NU seperti disampaikan Ketua Umum KH Hasyim Muzadi mengharamkan tayangan infotainment. Selain itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin, juga mengharamkan tayangan tersebut karena sifatnya ghibah (gosip), termasuk menceritakan masalah rumah tangga orang lain.

Menteri Agama Suryadharma Ali mengatakan dirinya secara pribadi setuju terhadap pandangan NU, bahwa tayangan infotainment tersebut sifatnya gosip, memunculkan kejelekan rumah tangga termasuk kejelekan pribadi dan mengungkapkan hal-hal yang sifatnya pribadi.

“Apalagi orang sampai dikejar-kejar untuk mengetahui kehidupan pribadi. Saya kira semua bisa menilai dari sisi nilai universal, bahwa kehidupan yang sangat pribadi tidak perlu diketahui orang banyak,” papar Suryadharma seusai bertemua SBY, di Puri Cikeas, Bogor, kemarin.

Sebelumnya, KH Hasyim Muzadi dan KH Ma’ruf Amin mengaku sama-sama telah mengeluarkan fatwa untuk pengharaman tayangan infotainment yang sifatnya ghibah.

“Kami sudah lama mengeluarkan fatwa tersebut,” kata Ma’ruf. *http://www.hidayatullah.com


Inilah 10 Penyebab Blog Anda di Blogspot Dibanned

16 Desember, 2009
Penyebab blog di blogspot dibanned kemungkinan besar karena melanggar peraturan konten blogger.com. Aturan Blogger.com melarang:

1. Pembajakan. membuat blog yang diisi dengan barang-barang bajakan bisa menyebabkanblog anda ditutup secara permanen.
2. Link ke situs pembajakan. sekalipun hanya numpang ngasih link ke website bajakan, blog anda diblogspot akan langsung “dihajar” oleh blogger team.
3. Konten porno. blog yang berisi konten porno tanpa ditandai sebagai konten dewasa, akan ditutup tanpa pemberitahuan oleh tim blogger.com.
4. Link ke situs web porno. Meski hanya meletakkan link ke website lain, tapi jika link tersebut mengarah pada situs porno, tanpa ampun blogger akan menutup blog anda.
5. Spam. jangan lakukan spam. seperti melakukan komentar yang sama persis di banyak blog atau situs social media seperti facebook.
6. Virus. Mencoba memasukkan virus, malware, spyware dan sejenisnya ke dalam blog untuk disebarkan pada pengunjung akan diganjar tanpa ampun oleh blogger dengan mendelete blog anda selama-lamanya.
7. Ancaman. Sebuah konten yang berisi ancaman pada pihak lain, tanpa segan akan dihapus oleh blogger.
8. Mengcopy konten. Mengkopi paste (copas) konten bisa membuat blog anda di blogspot dihapus. karena itu hati-hati jika mengcopy dan lebih baik berikan link ke sumber aslinya.
9. Penyebar kebencian. konten yang berisi fitnah dan penyebar kebencian terhadap suku, agama, gender, dan lainnya akan ditutup oleh blogger.
10. Konten sadis. Konten sadis atau menjijikkan yang bisa membuat anda tidak doyan makan sampai seminggu🙂 seperti misalnya gambar kepala dipenggal, akan membuat blog anda dibanned oleh blogger.com.

Jauhkan blog blogspot anda dari 10 hal terlarang di atas. semoga setelah ini anda bisa lebih berhati-hati dengan tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran seperti di atas.

Atau kalau sudah telanjur, segera hapus konten tersebut! Daripada blog berharga anda kemudian terhapus berbuah sesal kemudian yang tak ada guna. *Sumber Jokosusilo.com


Umur yang Mencair Seperti Es

27 November, 2009
Cepat sekali waktu berlalu. Mengalir tak pernah berhenti. Jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, bergerak. Waktu tak dapat ditunda, tak dapat ditahan dan tak mungkin ada yang mampu mengulang. Itu artinya, usia kita pun berkurang. Kita… semakin dekat ke liang lahat. Saudaraku, entah, apakah pertambahan dan perguliran waktu itu, berarti mendekatkan diri kita pada kenikmatan surga. Atau mendekatkan kita pada kesengseraan neraka. Nauzubillah..

Rasulullah saw. Menyifatkan cepatnya perjalanan waktu kehidupan seperti perjalanan seorang musafir yang hanya sejenak berhenti di bawah pohon di tengah perjalanan yang amat panjang. Para ulama juga banyak menguraikan ilustrasi tentang hidup yang amat singkat ini. “Umurmu akan mencair seperti mencairnya es, ” kata Imam Ibnul Jauzi. (Luthfu fil Wa’z, 31)

Saudaraku, sahabatku,
Semoga Allah memberkahi sisa usia kita, Permasalahan terbesar setiap orang adalah ketika kecepatan umur dan waktu hidupnya tidak seiring dengan kecepatannya untuk menyelamatkan diri dari penderitaan abadi di akhirat. Ketika, usia yang sangat terbatas itu tidak berfungsi sebagai pelindung diri dari beratnya adzab dan siksa Allah swt. Di saat, banyaknya hembusan dan tarikan nafasnya tak sebanding dengan upaya dan jihadnya untuk terhindar dari lubang kemurkaan Allah. Ketika, jumlah detak jantung dan aliran darah yang di pompa di dalam tubuhnya, tak sebanyak gerak dan tingkahnya untuk menjauhi berbagai kemaksiatan yang dapat memunculkan kesengsaraan akhirat.

Saudaraku,
Sesungguhnya jiwa kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah jiwa ini akan kembali….
Suasana hati seperti inilah yang perlu kita tumbuhkan. Adakah di antara kita yang tidak mempunyai dosa? Atau merasa mampu menebus kotoran dan dosa yang telah dilakukan selama puluhan tahun usia yang telah lewat? Tentu tidak. Perasaan kurang, merasa banyak melakukan kemaksiatan, lalu menimbulkan penyesalan adalah bagian dari pintu-pintu rahmat Allah yang akan mengantarkan kita pada taubat. Suasana hati seperti inilah yang akan mendorong pemilikinya bertekad mengisi hari dengan amal yang lebih untuk menebus kesalahan yang lalu.

Saurdaraku, mari menangguk pahala, meraih rahmat dan ampunan Allah sebanyak-banyaknya sekarang juga. Perbanyaklah dzikir, bersedekah, berjihad dan beramal shalih…Tak ada kata terlambat untuk melakukan kebaikan. Sekarang dan jangan tunda-tunda lagi niat baik kita…. Semoga Allah meneguhkan kekuatan kita untuk melakukan kebaikan yang kita niatkan…
Amiiin. *dudung.net


Silakan Tonton, Jangan Percayai Film 2012

18 November, 2009
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Hasyim Muzadi, mengimbau masyarakat untuk tidak mempercayai film 2012. Dan meminta masyarakat kembali kepada agama. “Film 2012, tidak usah dipercaya, kembali ke agama, bahwa tidak ada seorang pun yang tahu tentang kiamat,” tandasnya kepada wartawan usai membuka usai membuka International Workshop, Raising Awarness of The UN Global Counter-Terrorism Strategy Among Civil Society In Southeast Asia di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (18/11).

Menurut Hasyim, jika film ini menggambarkan kiamat boleh saja, tapi jika film ini menentukan kiamat tidak boleh. Hal senada dikatakan Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI), DKI Jakarta yang juga Wakil Ketua Bahtsul Masail PBNU, Cholil Nafis. Dia mengatakan masyarakat muslim dipersilakan untuk menonton film 2012 sebagai gambaran kiamat dan dunia ini akan musnah. Tapi tidak boleh mempercayai kapan akan terjadi waktu kiamat. “Karena yang tahu kapan kiamat hanya Allah SWT,” katanya.

Film berjudul 2012 garapan sutradara Hollywood, Roland Emmerich, ini terinspirasi oleh ide peristiwa hari kiamat global yang bersamaan dengan akhir putaran Kalender Hitungan Panjang Maya pada atau sekitar 12 Desember 2012 (titik balik matahari musim dingin belahan Bumi utara).

Kemunculan film 2012 justru menguatkan mitos mengenai kiamat pada 12 Desember 2012. Dan ini tentu saja membuat sebagian masyarakat ketakutan dan akhirnya mempercayai mitos itu. *Republika.co.id


Sumpah Palsu.

18 November, 2009
Akhir-akhir ini kita sering mendengar para pejabat negara mengobral sumpah atas nama Allah, bahwa mereka tidak bersalah dalam perkara yang akan menjeratnya. Dalam kehidupan kita sehari-hari pun, rasanya tidak jarang kita temui kata-kata sumpah, seperti demi Allah, dan lainnya.

Sumpah merupakan sesuatu yang sakral dan suci, karena dengan sumpah berarti seseorang telah menjadikan Allah sebagai jaminan atas kebenaran apa yang diungkapkannya. Oleh karena itu, apabila seseorang melakukan sumpah palsu, berarti ia menggunakan kesucian nama Tuhan untuk urusan yang buruk. Tindakan ini termasuk dalam kategori dosa besar.

Rasulullah SAW bersabda, `'(Di antara) dosa-dosa besar ialah menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh orang, dan sumpah palsu,’` (HR Bukhari). Beliau juga bersabda, `’Barangsiapa bersumpah, dan dia berdusta dalam sumpah itu, untuk memakan harta seorang Muslim, maka dia pasti bertemu dengan Allah (pada hari kiamat nanti) dalam keadaan murka,’` (Muttafaq alaihi). Sementara itu Alquran menggambarkan orang yang melanggar sumpah atau mengucapkan sumpah palsu, ibarat perempuan yang dengan tangannya sendiri memorak-porandakan hasil pintalan yang telah ditenunnya dengan rapi.

Firman Allah SWT, `’Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)-mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.’` (QS an-Nahl [16] : 92).

Ayat ini diturunkan ketika banyak terjadi pelanggaran sumpah di kalangan bangsa Arab di sekitar Makkah dan Madinah. Sayyid Sabiq dalam kitab Fikih Sunnah menjelaskan, sumpah palsu dalam tradisi Arab disebut ghamis, karena pelakunya kelak akan dibenamkan ke dalam neraka jahannam. Tidak ada perbuatan yang dapat menghapuskan dosa ini kecuali dengan taubat dan mengembalikan hak-hak orang yang direbutnya.

Di dalam Islam, penerapan sumpah dimaksudkan untuk melindungi jiwa dan harta seseorang dari ancaman orang lain. Dahulu sumpah dapat menyelesaikan permasalahan yang melibatkan jaringanjaringan pelaku kejahatan yang rumit. Karena semua pihak menyadari sepenuhnya bahwa sumpahnya punya implikasi di kehidupan dunia dan akhirat. Sekarang kondisinya berbeda, sumpah diucapkan oleh pelaku kejahatan yang juga memiliki otoritas mengatur hukum negara, tanpa rasa takut sedikit pun akan peringatan-peringatan agama. *Republika